Rabu, 17 September 2008

Tragedi Zakat

Jika tahun-tahun sebelumnya para penerima zakat tersebar masuk ke gang-gang dan pematang sawah, kali ini dikumpulkan dalam satu gang. Warga yang telah masuk dalam gang juga telah dijelaskan lewat pengeras suara di mushala bahwa warga yang telah masuk dijamin akan mendapat zakat. Untuk itu para warga diminta untuk sabar dan tertib.

Namun, realitasnya, warga tidak serta-merta mengikuti ajakan tersebut. Warga yang datang tanpa mendapat kupon terlebih dulu tampaknya masih merasa waswas dan ingin segera mendapat bagian terlebih dulu.

Padahal, setiap tahunnya, tidak ada warga yang datang yang tidak kebagian zakat. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pembagian zakat selalu diumumkan lewat radio. Warga yang akan mendapatkan zakat diminta datang tanpa syarat tertentu, baik warga Kota maupun Kabupaten Pasuruan.

Namun, para penerima zakat diutamakan para kaum perempuan yang telah berkeluarga. Nurul (30), seorang warga Bangil, mengetahui ada pembagian zakat lewat radio. Untuk itu ia berangkat bersama tetangga lainya sejak pukul 06.00. Namun, sesampai di lokasi, ratusan calon penerima zakat telah saling berdesakan.

Karena biasanya berlangsung aman, pembagian zakat itu tak pernah meminta bantuan polisi. Namun, kali ini kondisinya berbeda, jumlah calon penerima zakat tampaknya bertambah, diperkirakan mencapai ribuan orang.

Pada tahun-tahun sebelumnya pembagaian zakat dilakukan dengan cara membuat antrean melewati sebuah pematang selokan, kemudian Hanifah Hasan, istri Soikhon, yang duduk di sudut gang memberikan uang zakat kepada warga. Oleh karena itu, hampir setiap tahun adegan warga jatuh ke selokan selalu terjadi.

Kali ini pembagaian zakat dipersiapkan lebih rapi. Warga calon penerima zakat dikumpulkan dalam satu gang. Warga yang akan ikut antre juga telah diberi jadwal pada pukul 09.30 harus sudah masuk ke gang karena tepat pukul 10.00 pembagian segera dimulai dan berakhir pada pukul 12.00.

Sementara itu, bagi mereka yang datang terlambat tidak diperkenankan lagi memasuki gang yang telah ditutup dengan pagar bambu. Agaknya pengumpulan warga pada sebuah gang yang tertutup dengan maksud agar lebih tertib justru mengundang bencana.

Warga yang telah masuk gang tidak bisa lagi keluar masuk, termasuk warga yang telah jatuh pingsan akibat terlalu lama antre juga tidak diperkenankan keluar lagi.

Kondisi warga yang telah lelah antre semakin buruk akibat saling desak dan dorong untuk berebut ke satu pintu pembagian zakat di halaman mushala yang dibuka untuk sekadar cukup masuk satu orang.

Derasnya dorongan dari arah timur, barat, dan utara menuju ke pintu mushala membuat gerakan tak normal. Lautan warga yang berdesak-desakan itu akhirnya ambruk ke utara, tetapi dorongan warga dari arah timur dan barat tetap terus merangsek ke pintu mushala, akibatnya warga yang telah jatuh dan tertumpuk tidak bisa bangun dan terus terinjak-injak.

Kejadian tersebut berlangsung sekitar seperempat jam setelah pembagian zakat dimulai. Meski mengetahui sejumlah warga telah jatuh, warga lain dari arah timur dan barat terus merangseknya, sedangkan pintu mushala tidak juga dibuka karena panitia ketakutan kewalahan jika warga masuk dengan jumlah banyak.

Kondisi tersebut membuat warga yang jatuh tertumpuk dan terinjak-injak semakin kehabisan napas dan pingsan di lokasi kejadian. Sementara itu, pembagian zakat masih terus berlangsung dengan antrean hanya satu per satu orang.

Antrean pembagian zakat baru berhasil dibubarkan setelah dua SST polisi datang sekitar pukul 11.00. Polisi datang terlambat, sejumlah korban telah tewas, luka-luka, dan pingsan.

dengan polisi sehingga saat kejadian tidak ada polisi seorang pun.

"Kami tidak tahu kalau ada kegiatan yang melibatkan massa," ujarnya. Nasi telah menjadi bubur, korban telah berjatuhan. Niat mulia Haji Soikhon membagi zakat telah berubah menjadi tragedi karena dilakukan dengan cara-cara yang kurang baik.

Itulah gambaran tragedi zakat ( istilah red ) yang sangat memilukan, ditengah khusu’nya sebagian besar kaum muslimin menjalani ibadah puasa. Sontak saja kejadian itu mengundang keprihatinan yang luar biasa , tak ayal lagi komentar pun mulai bermunculan diterngah suasana duka yang begitu mendalam atas keluarga yang ditinggalkan celoteh sana celoteh sini dengan berbagai macam alibi dan argument yang meyakinkan. Biasalah Indonesia.

Terus ada apa ini??

Begitulah mungkin pertanyaan yang timbul dalam benak ku. Oke kalau kita runut dari awal kejadian munculnya tragedy tersebut ada beberapa poin yang perlu digaris bawahi

  1. Factor ekonomi yang dirasakan begitu menghimpit sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terasa begitu berat, nah begitu ada iming-iming yang mengiurkan maka mereka pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut
  2. Kurangnya persiapan yang memadai sehingga begitu ada arus gelombang yang besar otomatis mereka oleng tak sanggup untuk mengatasinya
  3. Sistem manajemen yang cenderung masih mengikuti arus
  4. Koordinasi.

Terus Gimana ???

Yaa kita ambil itu sebagai renungan dan bahan pembelajaran dimasa yang akan datang, banyak sich yang berkomentar kayak gitu, tapi realisasi nya yaaa???

Yang jadi pertanyaan ku adalah: Diantara sekian banyak komentar dan celoteh ada ngga? Yang kemudian disertai dengan tindakan nyata melakukan pendekatan dan bimbingan terhadap keluarga H. Shaekhon mengenai tata cara zakat dan pembagiannya beserta sistematikanya bukan langsung main salah menyalahkan gitu karena walau bagaimanapun juga ini juga termasuk Musibah.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut??

Setiap individu mempunyai persepsi yang berbeda, tergantung dari sudut pandang mana dia bisa mengambil Hikmah dari kejadian tersebut betul ngga’??

Aah bahasa diplomatis lo buat ngeles, bilang aja lo dah kehabisan ide.. …!!!

Jumat, 12 September 2008

Melatih Pandangan Politik yang Jernih

Koran Sindo
12 August 2008
By Wimar Witoelar

Dewasa ini orang punya kebebasan penuh mengembangkan pandangan politik. Itu hasil utama dari demokrasi kita. Tapi sangat susah untuk menggunakan kebebasan baru. Perlu pandangan yang jernih, dan itu harus dilatih.

Berikut ini beberapa pendapat yang banyak dianut orang, dalam contoh aktual dari website www.perspektif.net. Nama tidak disebut, karena tidak sempat minta izin. Tapi orang bersangkutan pasti mengenal kata-katanya dan bisa berkomentar pada website kami itu. Sebagai contoh pertama, sering kita dengar pendapat seperti ini: 'Partai-partai yang ada kebanyakan hanya mau cari duit aja. Dengan semakin banyak partai semakin menunjukkan ketidakdewasaan bangsa ini. Ini menggambarkan bahwa sangat banyak orang Indonesia yang gila jabatan dan kekuasaan. Dan ujung-ujungnya adalah mencari duit. Dan bukan mau membangun bangsa ini.' Kesimpulannya sangat mungkin benar. Tapi proses pemikirannya kurang jernih. Coba kita lihat beberapa bagian yang rancu.

'Partai-partai yang ada kebanyakan hanya mau cari duit aja.' Mencari duit tidak salah, yang salah adalah pemakaian duit itu oleh orang-orang yang kurang baik. Harusnya, uangnya dipakai untuk menampilkan tokoh-tokoh baru yang baik, orang yang belum punya dukungan selama ini. Banyak orang baik yang dihargai masyarakat, alangkah baiknya kalau partai menginvestasikan uangnya pada orang itu. Juga menguntungkan partai, sebab pemilih akan bersimpati pada partai yang mencalonkan orang baik. Contoh nyata ada di depan kita, yaitu Barack Obama yang mendapat dukungan dari Partai Demokrat di Amerika Serikat.

Pada awalnya, Barack Obama tidak punya uang, sama seperti Faisal Basri pada waktu memulai usahanya menjadi Gubernur DKI. Waktu itu Faisal Basri ditanya, bagaimana kamu mau menang kalau tidak punya uang. Faisal menjawab bahwa ia yakin uang akan datang mendukung calon yang dipercaya. Ternyata perkiraan dia meleset, sebab partai yang pada awalnya mendukung akhirnya memilih orang lain yang punya banyak uang. Mengapa begitu? Karena partainya sendiri tidak punya uang.

Pernyataan lain yang didasarkan pada pandangan rancu adalah 'Dengan semakin banyak partai semakin menunjukkan ketidakdewasaan bangsa ini.' Wah, justru banyaknya partai menunjukkan keinginan untuk menghindari partai lama yang sudah jelas mengecewakan orang biasa. Memang ada pilihan lain, yaitu memperbaiki partai yang ada, tapi kan susah. Lepas dari senang atau tidak pada SBY, ia memilih jalan yang tepat, mendirikan partai baru, daripada menawarkan ikut partai yang ada. Memang ternyata Partai Demokrat mengecewakan karena tidak punya karakter, tapi sebagai mesin pemilihan, terbukti berhasil. Silakan saja membuat partai sebanyak yang memenuhi syarat, nanti pemilih akan menentukan sendiri pilihannya. Sama seperti pasar, apa salahnya kalau banyak barang yang ditawarkan. Pembeli bisa memilih sendiri. Lebih baik daripada pilihan barangnya sedikit, jadi orang tidak punya pilihan.

Ada jenis pendapat yang bagus, jernih, tapi meleset dalam kesimpulannya. Sering muncul pada topik yang susah ditanggapi dengan jernih, seperti soal golput. Contoh komentar: 'wuah..wuah...kok milih pada golput seh??? emmm... terkesan jadi pecundang gak seh? hhi..hhi...muuph ya untuk yg memilih jln golput! .....bangsa ini masih memerlukan orang yang peduli untuk kemajuan dan perubahan besar yg ada di depan sana. as simple as possible aja neh, klo bukan kita yang ikut andil dalam kancah demokrasi termasuk dalam urusan coblos men-coblos yg artinya kita ikut andil menentukan nasib negara kita tercinta dikemudian hari...sapa lagi? bukan negara tetangga, bukan para LSM luar, atau bukan bara donatur yg sering wara-wiri ke ibu pertiwi kita tercinta ini! tapi tidak lain dan tidak bukan ya..kita sendiri, para generasi penerus bangsa khususnya yg akan mengambil alih perjuangan para pemimpin kita dikemudian hari... it's just simple thing, so...open ur mind, ur heart n hear what u want to ur country, one voice is so meaningful for Indonesia to go to the future.'

Semuanya benar (menurut saya, tentunya) dan menunjukkan sikap positif, tapi salah kalau merendahkan golput. Masih ada cara lain untuk menjalankan demokrasi, melalui bentuk-bentuk penyampaian pendapat. Golput masih lebih bagus daripada orang yang asal milih tanpa punya sikap. Tapi jangan hanya golput, tapi kembangkan upaya lain untuk memunculkan pilihan yang lebih baik. It is all about contributing to reform.

Terakhir, pendapat seperti berikut ini sangat mengerikan: 'Cukup mengejutkan kalau ternyata demokrasi is all about "memilih". Lalu apa gunanya duit ratusan trilyun yang tidak berguna untuk membiayai demokrasi kita? Kampungan banget ya..

Demokrasi seharusnya adalah persamaan hak di banyak bidang, ekonomi, politik, sosbud, dan kebebasan untuk berpendapat. Namun, hal yang dilupakan banyak orang adalah, demokrasi berarti apa saja boleh. Sedangkan motor saya pakai rem, bangsa ini rem-nya ditinggal di rumah! jadilah demokrasi indonesia bukan lagi hal yang menggemberikan, tapi justru memalukan! Kalu sudah begitu, mendingan tidak berdemokrasi deh!'

Jalan pikirannya oke, karena didorong keinginan untuk perbaikan. Begitu kuat keinginannya, sampai menjadi frustrasi mengatakan 'mendingan tidak berdemokrasi deh !' Pandangan seperti ini bukan saja rancu tapi berbahaya. Diktator muncul karena orang putus asa dengan demokrasi. Sukarno menjadi diktator setelah demokrasi multipartai kurang berhasil. Suharto menjadi diktator setelah orang mau meninggalkan sikap bebas. Bahkan Hitler juga muncul dari demokrasi gagal. Ia bisa menjadi diktator terbesar dalam sejarah dan membunuh jutaan rakyat Jerman setelah masa demokrasi membuat ekonomi Jerman rusak.

Sekarang kita masih punya pilihan, mau hidup di penjara dimana kita tinggal terima pembagian barang kebutuhan, atau di alam bebas dimana kita bisa merealisasikan potensi Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Print article only

Anlisa Politik


Konflik Berkepanjangan Menuju 2009

Oleh Gugun El-Guyanie*
Sudah genap satu dasawarsa usia Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), namun konflik yang panjang tak kunjung usai. Bahkan menjelang pesta demokrasi, Pemilu 2009, PKB belum menunjukkan soliditas di level internal. Mungkinkah di tengah guncangan badai konflik yang panjang dan melelahkan ini PKB masih menjadi magnet pada 2009?

Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 12 Juni 2008 menyatakan, pemberhentian sementara Muhaimin Iskandar dari jabatan Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Oleh karena itu, Muhaimin perlu dipulihkan harkat, martabat, dan kedudukannya sesuai dengan keputusan Menteri Hukum dan HAM tertanggal 8 Juni 2005. Muhaimin menggugat Dewan Tanfidz PKB dan Dewan Syuro PKB secara kolektif, serta Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid dan Sekjen DPP PKB Zannuba Arifa Chafsoh (Yenni Wahid).

Kemenangan kubu Muhaimin tentu bukan akhir dari sekian panjang konflik yang melanda PKB. Masih membutuhkan deret waktu yang begitu panjang untuk menciptakan PKB yang stabil. Tentu PKB versi MLB Parung, dengan Ketua Ali Masykur Musa dan Sekjen Yenni Wahid tidak pasrah menyerah begitu saja.

Bagi Yenni, putusan itu tidak mewajibkan mengembalikan posisi Muhaimin sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. PKB versi MLB Parung akan mengajukan kasasi atas ketidakpuasan terhadap putusan yang memenangkan PKB versi MLB Ancol atau kubu Muhaimin. Di meja yuridis, kedua kubu akan bertanding hingga satu di antara yang lainnya tersisihkan. Dari kasus demi kasus akan ditemukan satu ilmu mengenai masa depan PKB, kaitannya dengan Gus Dur dan NU.

Faktor Dominan
Belajar dari konflik demi konflik ada satu faktor yang paling dominan dalam tubuh PKB. Faktor itu adalah Gus Dur. Kemudian lahir satu premis pertanyaan yang serbahipotetik, Gus Dur-kah yang membuat PKB selalu bergejolak? Atau sebaliknya, Gus Dur-kah yang membuat PKB tetap eksis di tengah pergolakan panjang tiada tepi? Premis-premis tersebut bisa berkembang menjadi satu kesimpulan bahwa PKB sebagai partai yang mengandalkan public figure masih memiliki interdependensi yang vital terhadap Gus Dur. Hitam-putihnya PKB, ke utara atau ke selatan, Gus Dur faktornya.

Sejak dipecatnya Matori Abdul Jalil, berlanjut sampai kubu Khoirul Anam, dan berlanjut hingga MLB Semarang, yang memutuskan kubu Gus Dur sebagai pemenangnya. Puncaknya kubu Khoirul Anam mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang berisi barisan kiai yang sakit hati terhadap Gus Dur.

Baik PKB maupun PKNU sama-sama mengklaim sebagai partainya para ulama, partainya para kiai yang hidup di bawah bendera NU, sehingga sama-sama melakukan kampanye untuk menarik massa dari umat NU yang jumlahnya kurang lebih 40 juta.

Selama ini memang terbukti bahwa PKB adalah satu-satunya partai yang par-excellence di antara partai lain yang mengklaim sebagai partainya NU. Gus Dur pernah mengatakan, jika NU diibaratkan sebagai induk ayam, maka PKB adalah "telur emas"-nya.

Jika telur emasnya ternyata retak-retak dan nyaris hancur, mungkinkah induk ayam akan mengeluarkan telur emas yang lain? Bahkan retaknya telur emas ternyata juga berdampak pada kondisi induk ayam yang tidak sehat, tidak ada harmoni di antara elemen tubuh induk ayam. Semakin banyak telur yang dikeluarkan, ternyata semakin membuat induk ayam tidak sehat.

Secara prinsip, PKB menjadi wadah representatif bagi politik warga nahdliyin, berasaskan Pancasila yang inklusif dan terbuka. Dalam arti, PKB juga menerima anggota non-nahdliyin, bahkan non-Muslim yang memiliki visi, misi, dan satu ide dengan PKB.

Namun, warga nahdliyin yang berada di bawah rumah besar NU adalah konstituen utama selaku induknya yang asli. NU dan PKB tidak memiliki hubungan struktural, namun memiliki keintiman secara kultural. Keputusan NU bukan keputusan PKB, demikian juga sebaliknya. Namun, fatwa ulama dan kiai NU yang menjadi orang PKB memiliki kekuatan moral yang kuat.

Mungkin ada benarnya analisis Azyumardi Azra (2001), Gus Dur yang pada saat mendirikan PKB masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, sama dengan posisinya Soeharto ketika menjadi presiden sekaligus Dewan Pembina Golkar. Power yang dimiliki selaku pimpinan ormas yang berjumlah puluhan juta, menjadi efektif untuk melakukan propaganda politik ala NU.

Tetapi, jika melihat saat ini, keretakan Gus Dur dengan kiai-kiai NU, juga membuat kekuatan politik NU berkeping-keping. Apakah hal ini menunjukkan bahwa kharisma Gus Dur di tubuh NU sudah mulai luntur? Atau siapakah yang konsisten memperjuangkan demokrasi, Gus Dur ataukah orang-orang yang melawan Gus Dur?

Di hadapan Gus Dur, siapakah yang lebih penting? PKB, NU, ataukah demokrasi sebagai nilai atas segala-galanya? Dan sebaliknya di mata NU, siapakah yang lebih penting dan siapakah yang harus dikorbankan, Gus Dur ataukah PKB? Jika di mata Gus Dur demokrasi adalah di atas segala-galanya, maka tidak ada kekhawatiran bagi Gus Dur jika PKB terpecah-belah bahkan bubar sekalipun. Karena yang diperjuangkan Gus Dur bukanlah PKB, namun PKB hanya dijadikan sebagai alat politik untuk menegakkan demokrasi.

Kemelut di tubuh PKB hanyalah bentuk pertarungan mempertahankan demokrasi. Jika ada hipotesis bahwa Gus Dur adalah penjaga gawang di tubuh PKB, berarti orang-orang yang dipecat Gus Dur adalah orang-orang yang tidak sejalan dengan demokrasi. Tentu hipotesis ini membutuhkan riset yang mendalam untuk membuktikan bahwa yang terpenting dalam hidup Gus Dur adalah demokrasi; vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bekas Murid Setia
Para korban awak PKB yang dipecat Gus Dur adalah bekas murid-murid setianya. Tetapi, mengapa selalu terjadi klimaks, mereka semua pada puncaknya disingkirkan dari PKB. Keputusan model ini membuat Gus Dur dibenci banyak pihak terutama orang dalam PKB yang menganggap Gus Dur sewenang-wenang mempermainkan PKB. Apakah itu kiai khos, kiai langitan, aktivis, politisi NU, atau yang lainnya semuanya secara perlahan memusuhi Gus Dur.

Ulama-ulama terkemuka NU yang ikut membidani lahirnya PKB menganggap Gus Dur yang membuat PKB berantakan, dan politik NU pecah-belah. Wajar jika lahir PKNU yang mengklaim sebagai partainya para ulama, sementara PKB telah dianggap sebagai partai yang berkhianat dan keluar dari cita-cita para ulama. Jajaran kiai pesantren pun tiba-tiba menganggap Gus Dur telah mengkhianati mereka, para aktivis muda menuduh PKB sebagai Partai Keluarga Berencana.

Ada scenario building yang sedang dimainkan Gus Dur di tengah kegamangan politik NU yang semakin lama mengalami split oriented. Di tengah syahwat politik yang memuncak di kalangan kiai dan warga NU untuk ikut terjun langsung di medan kekuasaan praktis, Gus Dur justru mengobrak-abrik kendaraan-kendaraan politik yang tersedia. PKB sebagai salah satu kendaraan politik warga nahdliyin yang par-exellence, dengan sengaja dihancurkan Gus Dur secara pelan-pelan.

Tujuan Gus Dur hanya satu, mengembalikan para kiai dan warga nahdliyin untuk kembali ke barak mereka. Kaum nahdliyin ternyata belum siap tampil untuk bertempur di medan politik yang penuh trik dan intrik. Gus Dur ingin melakukan pendidikan politik kepada anak-anak muda NU agar tidak mudah tergoda dengan kekuasaan yang lari dari demokrasi.

Benarkah hipotesis tersebut, dan bagaimana nasib politik NU ke depan jika tiba-tiba partai warga Nahdliyin satu demi satu berjatuhan?

*Penulis adalah Sekjen Lembaga Kajian Keagamaan dan Kebangsaan (LK3) PW GP Ansor Yogyakarta.

(Suara Pembaruan, Rabu 23 Juli 2008)


Bocah Ajaib

Annisa Mendadak Bicara dalam Bahasa Inggris
Annisa Bocah Ajaib

SURABAYA - Setelah selama ini hanya menyebarkan ilmunya lewat ceramah-ceramah dan kuliah Annisa Rania Putri kini mulai menjangkau lebih banyak orang. Bocah ajaib berusia 9 tahun itu menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisannya selama ini yang diberi judul Hope Is on the Way: Kumpulan Pesan Alam.

Rabu (10/9) malam, ditemani ayah-ibunya, Annisa mampir ke kantor Surya untuk berbagi cerita tentang bukunya (yang baru diluncurkan di Jakarta 29 Agustus) sekaligus melakukan tanya jawab dengan awak redaksi Surya yang penasaran dengan kelebihan Annisa.

Bocah yang menguasai bahasa Inggris, Arab, Korea, dan Belanda tanpa belajar secara formal itu memang memiliki daya linuwih, kemampuan supranatural. Ia bisa melihat hal-hal gaib yang tak bisa ditembus penglihatan orang awam. Ia bisa menjangka masa depan, menyembuhkan orang sakit, dan melatih meditasi orang-orang dewasa.

Bahkan, saat berusia 6 tahun, Annisa sudah merancang arsitektur sebuah bangunan megah berlantai empat di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

"Buku ini berisi kumpulan ceramah dan kuliah saya di berbagai tempat dan waktu. I just fixed some of them (saya cuma memperbaiki beberapa saja) sebelum diterbitkan," tutur Annisa yang tak bisa berbahasa Indonesia.

Perihal bahasa ini, orangtua Annisa (pasangan dr Arwin SpKj dan Yenni Handojo) beberapa kali sempat miskomunikasi dengan anaknya itu.

"Suatu saat, karena beberapa kali kami sempat tidak menangkap bahasa Annisa, dengan polos dia berujar 'kenapa kok orangtua saya bodoh begini'," tutur Yenni yang tak pernah tersinggung tapi justru terhibur dan bersyukur memiliki anak Annisa yang dilahirkannya secara caesar di Jakarta pada 5 Juli 1999.

Meski masih anak-anak, buku Annisa jelas bukan untuk konsumsi anak-anak, apalagi anak seusianya. Bahkan, remaja pun belum tentu bisa mencerna pesan yang disampaikan Annisa dalam bukunya yang diterbitkan kelompok penerbit Gramedia itu.

Sebab, isi pesan-pesan dalam tulisan Annisa memang kelas berat, filosofis, dan mungkin baru bisa ditangkap oleh orang-orang dewasa atau yang sudah tercerahkan. Ia membahas, misalnya, tentang misteri kebijaksanaan, kasih, dan keadilan serta makna puasa.

Semua isi buku itu berasal dari 'pesan-pesan alam' yang bisa ditangkap Annisa kapan saja. Bisa tiba-tiba di sela-sela pembicaraan dengan orang lain, tapi kerap di keheningan malam.

"Kalau sedang mendapat 'pesan alam', tangan Annisa biasanya bergerak mencoret-coretkan 'pesan alam' itu atau bibirnya seperti mengucapkan sesuatu. Hurufnya tak bisa dipahami orang lain kecuali ia sendiri," kata Yenni.

Kelebihan Annisa sudah diakui banyak pihak. Wapres Jusuf Kalla pernah mengundangnya, berbagai universitas terkenal telah memintanya untuk memberi ceramah, dan sebuah majelis taklim yang beranggotakan orang-orang kelas menengah atas di Jakarta kerap mengundang Annisa.

Bocah itu juga memberi pelatihan dan konsultasi pada beberapa kelompok meditasi di ibu kota. Kalau sampai sekarang Annisa belum bersekolah, bukan bebarti orangtuanya membiarkannya. "Tapi, ketika sekolah di dalam kelas justru gurunya yang belajar dari Annisa. Ia kemudian tak mau sekolah," ucap Yenni.

Kemampuan berbahasa Inggris Annisa pun diperoleh secara alamiah. Setelah mulai bisa bicara saat berusia setahun lebih, tiba-tiba Annisa sudah cas cis cus dalam bahasa Inggris. Tentu orangtuanya bingung karena bahasa Inggris bukanlah bahasa sehari-hari mereka.

Keanehan lain, ketika belum lancar bicara, saat diajak menjenguk neneknya yang sakit, Annisa bilang "kembang" dalam bahasa Inggris. Tak berapa lama, neneknya meninggal. Kembang tadi tampaknya isyarat kematian.

Saat ditanya Surya apa cita-citanya, Annisa bilang ingin menjadi pengacara (lawyer). Terakhir, ketika agak bergurau Surya bertanya apakah kantor Surya "bersih", Annisa menjawab, "Yang ada makhluk putih, bukan hitam. Tidak apa-apa, mereka baik, pelindung."

Ibunya, Yenni Handojo, yang memperhatikan gerak-gerik anaknya itu beberapa kali berujar, "Annisa, Annisa...." ida/sko

Rabu, 10 September 2008

Big Bang" Ledakan Alam Semesta

Chatief Kunjaya

Pada hari-hari ini, para fisikawan, astronom, dan kosmolog banyak memperbincangkan tentang suatu percobaan yang akan dilakukan untuk menyimulasi kondisi alam semesta pada saat baru dilahirkan, yaitu beberapa saat setelah Ledakan Besar atau Big Bang. Bagaimana kondisi alam semesta di awal kelahirannya?

Percobaan itu akan dilakukan di sebuah laboratorium fisika partikel baru yang terbesar di dunia saat ini, yaitu berupa akselerator partikel berbentuk cincin dengan keliling sepanjang 27 kilometer. Di dalam akselerator itu partikel, misalnya proton, ditembakkan dan gerakannya dipercepat hingga mendekati kecepatan cahaya. Kondisi kecepatan setinggi itu berkorelasi dengan temperatur yang sangat tinggi, yang diperkirakan mirip dengan keadaan alam semesta pada saat baru lahir.

Ledakan besar

Bagaimana para fisikawan dapat menduga bahwa alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar? Dugaan itu bermula dari hasil pengamatan Edwin Hubble terhadap galaksi-galaksi. Galaksi adalah kumpulan bermiliar-miliar bintang seperti Matahari. Matahari sendiri hanyalah salah satu bintang kecil dari sekitar seratus miliar bintang anggota galaksi Bima Sakti atau Milky Way dalam bahasa Inggris. Di luar Bima Sakti masih ada jutaan galaksi-galaksi yang lain.

Pada tahun 1929, Hubble mendapati bahwa hampir semua galaksi garis-garis spektrumnya bergeser ke arah riak gelombang yang lebih panjang (lebih merah). Gejala ini kemudian terkenal dengan nama Redshift atau pergeseran merah. Semakin jauh suatu galaksi semakin jauh garis-garis spektrumnya bergeser ke arah yang lebih merah.

Pergeseran merah ini, berdasarkan prinsip hukum Doppler, merupakan pertanda bahwa galaksi-galaksi itu bergerak menjauhi galaksi Bima Sakti tempat kita bermukim. Karena galaksi-galaksi ada di berbagai arah secara merata, tentunya jarak antara satu galaksi dan galaksi lainnya juga menjauh.

Jika semua galaksi sedang saling menjauhi, tentunya di masa lalu jaraknya lebih dekat. Di masa yang lebih lampau jaraknya lebih dekat lagi. Tentunya logis jika disimpulkan bahwa pada suatu saat galaksi-galaksi itu sangat berdekatan. Maka muncullah sebuah teori yang menyatakan bahwa alam semesta lahir dari sebuah Ledakan Besar (Big Bang). Perhitungan menunjukkan bahwa ledakan besar itu terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.

Setelah terjadi ledakan besar, dalam jangka waktu 10-35 detik terjadi inflasi. Pada saat inflasi itu alam semesta mengembang dengan sangat cepat. Pada awalnya alam semesta didominasi oleh energi radiasi. Kemudian mulailah terbentuk partikel- partikel yang lebih elementer dari proton, seperti quark, gluon dan lepton.

Sepersejuta detik setelah ledakan besar, mulailah terbentuk partikel-partikel baryon, seperti proton dan neutron dari quark dan gluon. Atom hidrogen yang terbentuk dari bergabungnya elektron dan proton baru ada 379.000 tahun setelah Ledakan Besar. Selanjutnya terjadi penggumpalan awan-awan atom yang kelak akan menjadi galaksi-galaksi. Di dalam galaksi-galaksi kemudian lahirlah bintang-bintang, seperti Matahari.

Large Hadron Collider

Bagaimana keadaan alam semesta ketika baru saja lahir melalui Ledakan Besar itu? Masih penuh misteri. Oleh karena itu, para ilmuwan berikhtiar untuk mengetahuinya dengan membuat suatu miniatur yang diduga mirip alam semesta di masa lalu.

Salah satu caranya adalah dengan membuat pemercepat partikel (accelerator). Di dalam pemercepat partikel, sekumpulan proton ditembakkan lalu dipercepat hingga 99,999999% kecepatan cahaya dan memiliki energi hingga 7 TeV (Tera electron volt, atau triliun eV). Kondisi kecepatan yang sangat tinggi ini juga berarti temperatur yang sangat tinggi, mencapai miliaran derajat Celsius yang diperkirakan setara dengan temperatur alam semesta ketika baru lahir.

Dari arah lain juga ditembakkan dan dipercepat sekumpulan proton. Dalam keadaan kecepatan setinggi itu, proton-proton dari kedua arah ditumbukkan sehingga diharapkan bisa ”pecah”. Karena alat itu merupakan tempat proton bertumbukan, maka diberi nama Large Hadron Collider (LHC). Hadron adalah istilah untuk partikel-partikel elementer sekelas proton dan neutron.

Large Hadron Collider berupa sebuah terowongan berbentuk lingkaran di dekat perbatasan Swiss dan Perancis. Keliling LHC adalah sekitar 27 kilometer, ditanam di dalam tanah pada kedalaman 50 hingga 175 meter.

Pecahan yang dihasilkan dari tumbukan antarproton itu merupakan partikel yang lebih elementer yang membentuk proton dan neutron. Pada percobaan sebelumnya dengan akselerator yang lebih kecil, seperti Tevatron di Fermi National Accelerator Laboratory di Batavia, Illinois, Amerika Serikat, telah ditemukan beberapa macam quark yang menjadi bahan dasar proton. Diharapkan dengan akselerator baru yang lebih besar dan lebih kuat, seperti LHC, dapat ditemukan jenis-jenis partikel lain yang hanya bisa ada dalam keadaan temperatur yang sangat tinggi.

Proyek LHC didukung oleh konsorsium riset fisika partikel yang terdiri dari 20 negara. Ilmuwan Indonesia berpotensi ikut dalam proyek garis depan, seperti LHC, asalkan mendapat dukungan dari pemerintah.

Chatief Kunjaya, Dosen Program Studi Astronomi FMIPA Institut Teknologi Bandung

Publication By Kompas

Jumat, 05 September 2008

10. Hal yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

Sabtu, 6 September 2008 | 11:43 WIB

Kita sering membicarakan tentang uang; bagaimana mendapatkan banyak uang, bagaimana mengatur pengeluaran, berapa yang ditabung, serta diinvestasikan di mana. Kita sibuk merencanakan, memikirkan, dan mengkhawatirkan uang yang kita miliki, sehingga seolah-olah uang adalah hal yang paling penting di dunia.

Uang memang penting dalam kehidupan, tanpa alat tukar ini kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Uang membuat kita bisa melakukan banyak hal dibandingkan jika kita tak memilikinya. Tetapi sepenting-pentingnya uang, sebanyak apa pun pundi-pundi uang Anda, ada hal-hal yang tak bisa dibeli olehnya.
Kehilangan waktu
Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.
Kebahagiaan
Memang kedengarannya klise, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat Anda merasa senang karena bisa membiayai liburan, membeli elektronik terkini, atau mobil paling cepat. Tapi setumpuk uang tak kan pernah bisa menghadirkan kebahagiaan yang nyata yang berasal dari dalam hati kita. Kebahagiaan jenis ini hanya datang dari hubungan yang membahagiakan serta dukungan dan cinta dari keluarga.
Kebahagiaan Anak
Untuk memberikan sandang dan pangan yang layak kepada buah hati memang dibutuhkan uang. Tapi uang tak bisa memberikan rasa aman, tanggung jawab, sikap yang baik, serta kepandaian, pada anak-anak. Hal itu merupakan buah dari waktu dan perhatian yang Anda curahkan untuk mereka dan hal-hal baik yang Anda ajarkan. Uang memang membantu kita memenuhi beberapa aspek pengasuhan, tapi waktu telah membuktikan bahwa kebutuhan dasar tiap anak adalah berapa banyak waktu yang diberikan orangtuanya, bukan uangnya.
Cinta
Ini satu hal klise lainnya, cinta tak bisa dibeli dengan uang, tapi akuilah hal itu benar. Dengan uang kita bisa membuat orang tertarik, tapi cinta berasal dari rasa saling menghargai, perhatian, berbagi pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, tak bertahan lama.
Penerimaan
Untuk diterima oleh lingkungan pergaulan, Anda tak butuh uang. Bila Anda ingin diterima, fokuskan energi Anda untuk membuat diri Anda berharga bagi lingkungan sekitar dengan menjadi teman dalam suka dan duka.
Kesehatan
Kita butuh uang untuk mengongkosi biaya perawatan dan membeli obat, tapi uang tak bisa menggantikan kesehatan yang hilang. Itu sebabnya pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati sebaiknya kita terapkan. Mulailah berolahraga, berhenti merokok, dan banyak hal lain yang pasti sudah Anda tahu.
Kesuksesan
Beberapa orang memang ada yang mencapai kesuksesan dengan menyuap, tapi ini adalah pengecualian. Kesuksesan hanya berasal dari kerja keras, kemauan, dan sedikit kemujuran. Ada aspek kecil dari usaha menuju sukses yang bisa didapatkan dengan uang, misalnya mengikuti pelatihan atau membeli peralatan, tapi sukses lebih banyak berasal dari usaha yang Anda lakukan sendiri.
Bakat
Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Dengan uang, yang bisa kita lakukan adalah mengasah bakat tersebut, misalnya belajar musik. Namun para ahli mengatakan, untuk menjadi ahli di bidangnya, kita membutuhkan bakat.
Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap atau manner seseorang.
Kedamaian
Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uang lah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.

Sumber Kompas
An: Shine

Senin, 01 September 2008

ARTI SeBUaH C1nTa


CINTA RASUL

Manusia tidak jatuh ‘ke dalam’ cinta, dan tidak juga keluar ‘dari cinta’. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam cinta”.

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.

Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Teringat kisah Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.

Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, jika mungkin.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii” Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

diambil dari: http://lenterahati.wordpress.com/2000/08/13/cinta-rasulullah/