Rabu, 17 September 2008

Tragedi Zakat

Jika tahun-tahun sebelumnya para penerima zakat tersebar masuk ke gang-gang dan pematang sawah, kali ini dikumpulkan dalam satu gang. Warga yang telah masuk dalam gang juga telah dijelaskan lewat pengeras suara di mushala bahwa warga yang telah masuk dijamin akan mendapat zakat. Untuk itu para warga diminta untuk sabar dan tertib.

Namun, realitasnya, warga tidak serta-merta mengikuti ajakan tersebut. Warga yang datang tanpa mendapat kupon terlebih dulu tampaknya masih merasa waswas dan ingin segera mendapat bagian terlebih dulu.

Padahal, setiap tahunnya, tidak ada warga yang datang yang tidak kebagian zakat. Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pembagian zakat selalu diumumkan lewat radio. Warga yang akan mendapatkan zakat diminta datang tanpa syarat tertentu, baik warga Kota maupun Kabupaten Pasuruan.

Namun, para penerima zakat diutamakan para kaum perempuan yang telah berkeluarga. Nurul (30), seorang warga Bangil, mengetahui ada pembagian zakat lewat radio. Untuk itu ia berangkat bersama tetangga lainya sejak pukul 06.00. Namun, sesampai di lokasi, ratusan calon penerima zakat telah saling berdesakan.

Karena biasanya berlangsung aman, pembagian zakat itu tak pernah meminta bantuan polisi. Namun, kali ini kondisinya berbeda, jumlah calon penerima zakat tampaknya bertambah, diperkirakan mencapai ribuan orang.

Pada tahun-tahun sebelumnya pembagaian zakat dilakukan dengan cara membuat antrean melewati sebuah pematang selokan, kemudian Hanifah Hasan, istri Soikhon, yang duduk di sudut gang memberikan uang zakat kepada warga. Oleh karena itu, hampir setiap tahun adegan warga jatuh ke selokan selalu terjadi.

Kali ini pembagaian zakat dipersiapkan lebih rapi. Warga calon penerima zakat dikumpulkan dalam satu gang. Warga yang akan ikut antre juga telah diberi jadwal pada pukul 09.30 harus sudah masuk ke gang karena tepat pukul 10.00 pembagian segera dimulai dan berakhir pada pukul 12.00.

Sementara itu, bagi mereka yang datang terlambat tidak diperkenankan lagi memasuki gang yang telah ditutup dengan pagar bambu. Agaknya pengumpulan warga pada sebuah gang yang tertutup dengan maksud agar lebih tertib justru mengundang bencana.

Warga yang telah masuk gang tidak bisa lagi keluar masuk, termasuk warga yang telah jatuh pingsan akibat terlalu lama antre juga tidak diperkenankan keluar lagi.

Kondisi warga yang telah lelah antre semakin buruk akibat saling desak dan dorong untuk berebut ke satu pintu pembagian zakat di halaman mushala yang dibuka untuk sekadar cukup masuk satu orang.

Derasnya dorongan dari arah timur, barat, dan utara menuju ke pintu mushala membuat gerakan tak normal. Lautan warga yang berdesak-desakan itu akhirnya ambruk ke utara, tetapi dorongan warga dari arah timur dan barat tetap terus merangsek ke pintu mushala, akibatnya warga yang telah jatuh dan tertumpuk tidak bisa bangun dan terus terinjak-injak.

Kejadian tersebut berlangsung sekitar seperempat jam setelah pembagian zakat dimulai. Meski mengetahui sejumlah warga telah jatuh, warga lain dari arah timur dan barat terus merangseknya, sedangkan pintu mushala tidak juga dibuka karena panitia ketakutan kewalahan jika warga masuk dengan jumlah banyak.

Kondisi tersebut membuat warga yang jatuh tertumpuk dan terinjak-injak semakin kehabisan napas dan pingsan di lokasi kejadian. Sementara itu, pembagian zakat masih terus berlangsung dengan antrean hanya satu per satu orang.

Antrean pembagian zakat baru berhasil dibubarkan setelah dua SST polisi datang sekitar pukul 11.00. Polisi datang terlambat, sejumlah korban telah tewas, luka-luka, dan pingsan.

dengan polisi sehingga saat kejadian tidak ada polisi seorang pun.

"Kami tidak tahu kalau ada kegiatan yang melibatkan massa," ujarnya. Nasi telah menjadi bubur, korban telah berjatuhan. Niat mulia Haji Soikhon membagi zakat telah berubah menjadi tragedi karena dilakukan dengan cara-cara yang kurang baik.

Itulah gambaran tragedi zakat ( istilah red ) yang sangat memilukan, ditengah khusu’nya sebagian besar kaum muslimin menjalani ibadah puasa. Sontak saja kejadian itu mengundang keprihatinan yang luar biasa , tak ayal lagi komentar pun mulai bermunculan diterngah suasana duka yang begitu mendalam atas keluarga yang ditinggalkan celoteh sana celoteh sini dengan berbagai macam alibi dan argument yang meyakinkan. Biasalah Indonesia.

Terus ada apa ini??

Begitulah mungkin pertanyaan yang timbul dalam benak ku. Oke kalau kita runut dari awal kejadian munculnya tragedy tersebut ada beberapa poin yang perlu digaris bawahi

  1. Factor ekonomi yang dirasakan begitu menghimpit sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terasa begitu berat, nah begitu ada iming-iming yang mengiurkan maka mereka pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut
  2. Kurangnya persiapan yang memadai sehingga begitu ada arus gelombang yang besar otomatis mereka oleng tak sanggup untuk mengatasinya
  3. Sistem manajemen yang cenderung masih mengikuti arus
  4. Koordinasi.

Terus Gimana ???

Yaa kita ambil itu sebagai renungan dan bahan pembelajaran dimasa yang akan datang, banyak sich yang berkomentar kayak gitu, tapi realisasi nya yaaa???

Yang jadi pertanyaan ku adalah: Diantara sekian banyak komentar dan celoteh ada ngga? Yang kemudian disertai dengan tindakan nyata melakukan pendekatan dan bimbingan terhadap keluarga H. Shaekhon mengenai tata cara zakat dan pembagiannya beserta sistematikanya bukan langsung main salah menyalahkan gitu karena walau bagaimanapun juga ini juga termasuk Musibah.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut??

Setiap individu mempunyai persepsi yang berbeda, tergantung dari sudut pandang mana dia bisa mengambil Hikmah dari kejadian tersebut betul ngga’??

Aah bahasa diplomatis lo buat ngeles, bilang aja lo dah kehabisan ide.. …!!!

Tidak ada komentar: